Cara Menggunakan Google Keyword Planner secara Gratis untuk Pemula (Update Terbaru)

Bagi siapa saja yang ingin artikel atau websitenya muncul di halaman pertama Google, melakukan riset kata kunci adalah langkah pertama yang tidak boleh dilewati.
Mengapa? Karena menulis tanpa riset ibarat menembak di dalam kegelapan; kamu tidak akan tahu apakah topik yang kamu tulis benar-benar ada yang mencari atau tidak.
Untungnya, Google sendiri telah menyediakan sebuah alat super ampuh yang bisa kita gunakan. Banyak orang mengenalnya dengan sebutan Google Keyword Tool, sementara sebagian lainnya cukup menyebutnya Google Planner. Padahal, nama resmi dari platform ini adalah Google Keyword Planner.
Alat ini sebenarnya dirancang sebagai Google keyword manager bagi para pengiklan. Namun menariknya, alat ini juga menjadi senjata rahasia yang sangat efektif sebagai SEO Keyword Planner untuk para blogger, content writer, maupun pemilik bisnis lokal.
Melalui platform resmi ini, kita bisa melakukan Google keyword research dengan data yang sangat akurat karena datanya diambil langsung dari mesin pencari Google sendiri. Jadi bisa dengan mudah menemukan ribuan Google keyword ideas (ide kata kunci) yang sesuai hanya dalam hitungan detik.
Namun, sebelum kita masuk ke tutorial teknisnya, ada satu pertanyaan krusial yang sering membuat para pemula ragu untuk mencobanya: Apakah alat ini berbayar? Yuk, kita bahas jawabannya di bawah ini.
Apa Itu Google Keyword Planner?
Google Keyword Planner adalah alat riset kata kunci gratis yang disediakan resmi oleh Google di dalam platform Google Ads.
Awalnya, alat ini dibuat khusus untuk membantu para pengiklan (advertiser) merencanakan kampanye iklan berbayar mereka di Google.
Namun karena fungsinya yang sangat kuat dalam menyajikan data pencarian langsung dari server Google, alat ini bertransformasi menjadi salah satu senjata paling populer yang digunakan oleh para praktisi SEO dan content writer untuk mengoptimalkan konten blog atau website mereka agar ramah di mesin pencari.
Apa Kegunaannya?
Ada tiga kegunaan utama dari Google Keyword Planner yang membuatnya begitu sering digunakan:
- Menemukan Ide Kata Kunci Baru (Discover New Keywords): Kamu tinggal memasukkan satu kata atau topik umum, dan Google akan memberikan ratusan hingga ribuan variasi kata kunci lain yang terkait dan sering diketikkan oleh orang-orang.
- Melihat Tren dan Volume Pencarian: Kamu bisa tahu persis berapa banyak orang yang mencari suatu kata kunci dalam sebulan (misal: 1.000 atau 10.000 pencarian) serta melihat apakah tren kata kunci tersebut sedang naik atau turun.
- Mengintip Estimasi Biaya Iklan: Bagi kamu yang ingin beriklan, alat ini memberikan perkiraan biaya per klik (Cost Per Click) sehingga bisa menganggarkan biaya promosi dengan akurat.
Kekurangan dan Keunggulan Google Keyword Planner
Sebagai bahan pertimbangan sebelum menggunakannya, berikut adalah kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki oleh alat ini:
| Keunggulan (Kelebihan) | Kekurangan (Keterbatasan) |
| Data Langsung & Akurat: Karena dibuat oleh Google, data volume pencarian dan tren yang disajikan jauh lebih valid dibanding alat pihak ketiga. | Data Volume Berupa Rentang (Range): Untuk pengguna akun gratis (tanpa pasang iklan), Google sering kali menyembunyikan angka pasti dan hanya menampilkan rentang besar (misal: 10rb – 100rb). |
| 100% Gratis: Kamu bisa mengakses semua fitur riset kata kuncinya tanpa perlu membayar biaya langganan bulanan. | Fokus Utama untuk Iklan: Beberapa metrik (seperti tingkat kompetisi) mengacu pada persaingan iklan berbayar, bukan persaingan artikel SEO murni. |
| Filter Lokasi dan Bahasa: Kamu bisa membidik riset yang sangat spesifik, misalnya hanya mencari kata kunci yang diketikkan oleh orang di kota Jakarta saja atau seluruh Indonesia. | Tampilan Awal Membingungkan: Bagi pemula, proses pendaftaran sering kali membingungkan karena diarahkan untuk membuat iklan berbayar terlebih dahulu. |
Apakah Google Keyword Planner Masih Gratis?
Bagi kamu yang baru pertama kali mendengar tentang alat ini, wajar jika muncul pertanyaan: “Apakah Google Keyword Planner masih gratis?” Jawabannya adalah 100% masih gratis!
Banyak pemula yang ragu atau langsung mundur teratur saat mencoba mengakses alat ini karena mereka diarahkan ke platform bernama Google Ads (dulu dikenal sebagai Google AdWords), yaitu platform iklan berbayar milik Google. Saat pertama kali mendaftar, Google bahkan sering meminta kamu untuk memasukkan informasi kartu kredit atau membuat kampanye iklan terlebih dahulu.
Namun, kamu perlu tahu bahwa itu hanyalah prosedur standar dari Google Ads. Kenyataannya, Google Keyword Planner tool free alias bisa diakses sepenuhnya tanpa biaya sepeser pun.
Kamu tidak wajib membayar, tidak wajib mengisi saldo, dan tidak harus menjalankan iklan berbayar untuk bisa menikmati fitur riset kata kuncinya. Dengan metode pendaftaran yang tepat, bisa melewati (skip) halaman pembayaran tersebut dan langsung masuk ke halaman pencarian kata kunci secara gratis.
4 Langkah Menggunakan Google Keyword Planner
Banyak pemula yang bingung dan terjebak saat pertama kali membuka alat ini karena Google secara otomatis akan langsung mengarahkan pengguna untuk membuat iklan. Tenang, ikuti panduan step-by-step di bawah ini untuk melewati jebakan tersebut agar bisa melakukan Google Keyword Planner sign up secara gratis:
Langkah 1: Masuk ke Halaman Utama
- Buka browser kamu dan pergi ke halaman resmi Google Ads (bisa ketik di Google atau langsung akses via tautan resmi Keyword Planner).
- Klik tombol “Mulai Sekarang” (Start Now) di pojok kanan atas.
- Silakan lakukan Google Keyword Planner login menggunakan akun Gmail kamu yang aktif.
Langkah 2: Lewati Pembuatan Iklan
Setelah login, Google akan langsung menyodorkan halaman pengisian nama bisnis, website, dan tujuan iklan. Jangan isi kolom tersebut! Ini adalah umpan agar kamu membuat iklan berbayar. Lakukan trik ini:
- Lihat ke bagian bawah halaman dengan teliti. Kamu akan menemukan teks kecil bertuliskan: “Apakah Anda seorang pemasar profesional? Beralih ke Mode Pakar” (Switch to Expert Mode). Klik teks tersebut.
- Di halaman berikutnya, Google kembali meminta kamu memilih target kampanye iklan (seperti Sales, Leads, Website Traffic). Sekali lagi, abaikan pilihan tersebut.
- Lihat lagi ke bagian bawah halaman. Cari dan klik tautan kecil yang berbunyi: “Buat akun tanpa kampanye” (Create an account without a campaign atau Skip campaign creation).
Langkah 3: Konfirmasi Informasi Akun
- Sekarang kamu akan diarahkan ke halaman konfirmasi info bisnis (Negara penagihan, Zona waktu, dan Mata uang). Sesuaikan dengan lokasimu (misal: Indonesia, GMT+07, Rupiah).
- Klik tombol “Kirim” (Submit).
- Selamat! Kamu akan melihat pesan “Congrats! You’re all done.” Sekarang klik tombol “Jelajahi akun Anda” (Explore your account).
Langkah 4: Masuk ke Dashboard Keyword Planner
Sekarang kamu sudah berada di dalam dashboard utama Google Ads yang kosong (tanpa iklan aktif). Untuk membuka alat riset kata kuncinya:
- Klik ikon “Alat & Setelan” (Tools & Settings) yang bergambar kunci inggris di menu bagian atas.
- Di bawah kolom “Perencanaan” (Planning), klik “Keyword Planner”.
Kamu pun berhasil masuk ke halaman riset kata kunci secara 100% gratis!
2 Langkah Mencari Kata Kunci di Google Keyword Planner
Setelah kamu berhasil masuk ke halaman utama Keyword Planner, kamu akan dihadapkan pada dua pilihan menu utama yang memiliki fungsi berbeda. Mari kita bahas cara menggunakan kedua fitur ini satu per satu untuk melakukan Google keyword research:
Step 1: Discover New Keywords (Menemukan Ide Kata Kunci Baru)
Fitur ini adalah menu paling penting yang paling sering digunakan untuk mencari inspirasi topik tulisan baru. Melalui fitur ini, bisa mendapatkan ribuan Google keyword ideas yang terkait dengan topik tulisan.
Langkah pertama, klik kotak “Discover New Keywords”.
Kamu akan melihat dua pilihan tab:
- Start with keywords: Masukkan kata atau frasa umum yang ingin kamu riset. Kamu bisa memasukkan hingga 10 kata kunci sekaligus (misalnya: cara membuat website, belajar SEO, optimasi blog).
- Start with a website: Masukkan alamat URL website milikmu atau website kompetitor. Google akan otomatis memindai halaman tersebut dan memunculkan kata kunci apa saja yang paling cocok untuk halaman tersebut.
Langkah kedua, atur Target Lokasi & Bahasa: Di bagian bawah kolom input, pastikan telah mengatur lokasinya ke Indonesia dan bahasanya ke Indonesian (atau sesuaikan dengan target pengunjung).
Langkah ketiga, klik tombol “Get Results”. Google akan langsung memunculkan daftar ratusan kata kunci terkait beserta data statistiknya.
Step 2: Get Search Volume and Forecasts (Melihat Volume & Perkiraan Performa)
Jika kamu sudah memiliki daftar kata kunci yang banyak (misalnya hasil dari riset sebelumnya atau dari coretan di buku) dan hanya ingin melihat berapa banyak orang yang mencarinya tanpa perlu mencari ide baru, fitur ini adalah pilihan yang tepat.
- Klik kotak “Get Search Volume and Forecasts”.
- Ketik atau tempel (paste) daftar kata kunci yang sudah kamu siapkan ke dalam kolom yang tersedia. Kamu juga bisa mengunggah file teks (.txt) atau CSV.
- Klik “Get Started”.
- Google akan menampilkan data volume pencarian bulanan serta perkiraan tren performa dari daftar kata kunci tersebut untuk beberapa waktu ke depan.
4 Cara Membaca Data di Google Keyword Planner
Setelah menekan tombol “Get Results”, Google akan menyajikan tabel besar yang berisi ratusan kata kunci. Bagi pemula, melihat tabel penuh angka ini mungkin terasa membingungkan.
Agar bisa menemukan keyword yang paling banyak dicari di Google dengan tepat, berikut adalah 4 kolom metrik utama yang wajib kamu perhatikan dan pahami artinya:
1. Keyword (by relevance)
Kolom ini berisi daftar kata kunci yang dicari beserta ribuan variasi Google keyword ideas yang disarankan oleh Google karena dinilai sesuai dengan topik utamanya. Kamu bisa menyortir kolom ini untuk merapikan daftar kata kunci dari A sampai Z.
2. Avg. Monthly Searches (Rata-rata Pencarian Bulanan)
Ini adalah metrik paling penting untuk mengukur popularitas sebuah kata kunci. Kolom ini menunjukkan berapa kali kata kunci tersebut diketikkan oleh pengguna di Google dalam satu bulan.
Jika menggunakan akun gratis, angka yang muncul berupa rentang (misal: 100 – 1K, 1K – 10K, atau 10K – 100K). Cari kata kunci yang memiliki rentang volume besar jika ingin menjaring banyak pengunjung.
3. Three-Month Change & YoY Change (Tren Perubahan)
- Three-Month Change: Menunjukkan apakah popularitas kata kunci tersebut sedang naik atau turun dalam 3 bulan terakhir.
- YoY Change (Year-over-Year): Membandingkan volume pencarian bulan ini dengan bulan yang sama di tahun lalu. Data ini sangat berguna untuk menghindari kata kunci musiman (misal: kata kunci bertema “Lebaran” atau “Tahun Baru” yang hanya ramai di bulan tertentu).
4. Competition (Persaingan)
Kolom ini menunjukkan seberapa ketat tingkat persaingan untuk kata kunci tersebut dengan indikator Low (Rendah), Medium (Sedang), atau High (Tinggi).
Tingkat persaingan di Google Keyword Planner sebenarnya mengacu pada persaingan antar pengiklan yang berebut memasang iklan di Google Ads, bukan persaingan artikel SEO murni. Namun, kolom ini tetap bisa menjadi indikator awal: jika kompetisinya Low atau Medium, biasanya artikel akan lebih mudah untuk bersaing di halaman pertama Google.
4 Kesalahan dalam Menggunakan Google Keyword Planner dan Solusinya
Banyak pemula yang sudah berhasil masuk ke dashboard dan melihat data, namun tetap gagal mendapatkan trafik ke website mereka. Mengapa? Karena ada beberapa salah kaprah dalam membaca situasi dan menganalisis data.
Berikut adalah kesalahan umum yang sering dilakukan pemula dan cara memperbaikinya:
1. Hanya Fokus Memburu Kata Kunci Bervolume Besar
Pemula biasanya langsung tergiur memilih kata kunci dengan Avg. Monthly Searches paling tinggi (misalnya rentang 100K – 1M) seperti kata “Diet” atau “Saham”. Padahal, kata kunci satu kata (Short-tail Keyword) seperti ini persaingannya sangat berdarah-darah karena dikuasai oleh media raksasa.
Solusinya, kombinasikan dengan kata kunci ekor panjang (Long-tail Keyword) yang terdiri dari 3–5 kata. Misalnya, alih-alih membidik kata “Diet”, pilihlah “Cara diet sehat alami untuk pemula”. Volumenya mungkin lebih kecil, tetapi peluang artikel untuk nangkring di halaman pertama jauh lebih besar.
2. Salah Mengartikan Kolom Competition
Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, status Competition “Low” di Google Keyword Planner sering membuat pemula girang dan mengira menulis topik itu pasti langsung ranking 1 di Google. Padahal, status “Low” di sini berarti sedikit pengiklan yang mau membayar untuk kata kunci tersebut, bukan berarti persaingan artikel di Google itu mudah.
Solusinya, gunakan “Triangulasi Data”. Jika kamu menemukan kata kunci menarik dengan kompetisi iklan Low, coba ketikkan kata kunci tersebut secara manual di Google. Lihat web apa saja yang muncul di halaman pertama. Jika yang muncul adalah blog-blog personal, barulah itu tanda bahwa persaingan SEOnya memang benar-benar mudah.
3. Mengabaikan Faktor User Intent (Niat Cari Pembaca)
Mengumpulkan kata kunci hanya berdasarkan angka tanpa memikirkan apa yang sebenarnya dicari manusia di balik kata tersebut. Contohnya, memasukkan kata kunci “Harga HP Samsung Terbaru” ke dalam artikel tutorial cara memperbaiki HP.
Solusinya, selalu selaraskan kata kunci dengan jenis konten. Google Keyword Planner memberikan data mentah, tugas kamu adalah memilahnya. Jika audiens mengetik “Cara menggunakan…”, artinya mereka butuh artikel edukasi/tutorial, bukan halaman jualan produk.
4. Panik Karena Angka Volume Berupa Rentang (Range)
Banyak pemula yang langsung menyerah atau merasa alat ini tidak berguna karena akun gratisan mereka hanya menampilkan angka abu-abu seperti 10K – 100K, bukan angka pasti seperti 45.300.
Solusinya, jangan biarkan rentang data menghentikanmu. Rentang data dari Google sudah lebih dari cukup untuk melihat peta popularitas. Angka 10K – 100K sudah valid menunjukkan bahwa topik tersebut sangat ramai dicari orang. Fokuslah pada pembuatan konten yang berkualitas daripada pusing memikirkan angka satuan yang presisi.
Berikut adalah draf untuk Seksi 6, yang fokus pada tips taktis mengeksekusi hasil riset menjadi strategi konten nyata, serta panduan teknis cara mengunduh datanya agar rapi dan mudah diolah.
Tips Menemukan Keyword Terbaik dan Cara Mengunduh Datanya
Setelah memahami cara membaca metrik dan menghindari kesalahan-kesalahan umum, langkah terakhir dari proses riset adalah mengeksekusi data tersebut menjadi rencana konten (content plan).
Agar pekerjaan lebih rapi dan tidak pusing melihat layar Google Ads terus-menerus, ikuti tips di bawah ini:
1. Kelompokkan Kata Kunci Berdasarkan Topik (Keyword Clustering)
Jangan membuat satu artikel terpisah untuk setiap satu kata kunci yang ditemukan. Kelompokkan kata kunci yang mirip ke dalam satu artikel.
Contoh: Jika menemukan kata kunci “cara menggunakan google keyword planner”, “panduan google keyword planner”, dan “tutorial keyword planner gratis”, satukan semuanya ke dalam satu artikel utuh yang sedang dibuat ini. Ini akan membuat artikel dinilai sangat lengkap oleh Google.
2. Manfaatkan Kalimat “Find your campaign keywords” untuk Target Konten
Di dalam dashboard, Google sering menampilkan rekomendasi kata kunci secara otomatis melalui kampanye. Gunakan saran tersebut untuk melihat tren apa yang sedang naik daun di tokomu atau industri bisnismu saat ini, lalu segera eksekusi menjadi artikel tulisan sebelum kompetitor lain duluan melakukannya.
3. Cara Mengunduh (Download) Data Kata Kunci
Agar bisa menyaring data dengan lebih leluasa menggunakan Microsoft Excel atau Google Sheets, wajib mengunduh laporan riset. Caranya sangat mudah:
Pertama, perhatikan pojok kanan atas tabel hasil riset kata kunci.
Kedua, cari dan klik tombol ikon panah ke bawah atau tulisan “Download Keyword Ideas” (Unduh Ide Kata Kunci).
Kemudian akan diberikan dua pilihan format, yakni:
- Google Sheets: Data akan langsung masuk ke Google Drive kamu dalam bentuk tabel daring.
- .csv: Data akan terunduh ke komputer dan bisa kamu buka menggunakan Microsoft Excel.
Ketiga, setelah diunduh, kamu bisa menghapus kolom-kolom yang tidak diperlukan (seperti kolom mata uang yang rumit) dan menyisakan kolom Keyword, Avg. Monthly Searches, dan Competition saja agar data terlihat bersih dan siap dieksekusi sebagai jadwal postingan blog.
Apakah Google Keyword Planner Membantu SEO On Page?
Iya, sangat membantu! Bahkan, bisa dibilang Google Keyword Planner adalah salah satu pondasi utama sebelum melakukan optimasi SEO On Page.
SEO On-Page adalah segala upaya yang dilakukan di dalam halaman website agar artikel mudah dipahami oleh Google dan disukai oleh pembaca. Namun, tidak bisa asal menebak kata apa yang mau dimasukkan ke dalam komponen website tersebut. Di sinilah Google Keyword Planner masuk sebagai penyedia bahan baku utama mencari kata kunci.
Berikut adalah beberapa cara bagaimana Google Keyword Planner membantu menyempurnakan SEO On Page pada artikel:
1. Menentukan Kata Kunci Utama untuk Judul (H1) dan Meta Description
Aturan dasar SEO On-Page yang paling krusial adalah meletakkan kata kunci utama di bagian depan Judul Artikel dan Meta Description (deskripsi singkat yang muncul di hasil pencarian Google).
Google Keyword Planner membantu seleksi dari sekian banyak pilihan kata, mana frasa yang memiliki volume pencarian paling tinggi namun persaingannya masih masuk akal untuk postingan artikel di blog. Data inilah yang jadikan judul utama.
2. Menyusun Struktur Artikel Menggunakan Sub Judul (H2 dan H3)
Struktur artikel yang rapi menggunakan komponen Heading (H2, H3, dst) sangat disukai oleh algoritma Google karena membuat artikel lebih mudah dipindai (scannable).
Saat mengetikkan satu topik di fitur Discover New Keywords, Google Keyword Planner akan memberikan ratusan Google keyword ideas (ide kata kunci terkait). Variasi kata kunci turunan ini bisa langsung diambil dan gunakan secara natural sebagai sub-judul (H2 atau H3) di dalam artikel.
3. Mencegah Keyword Stuffing (Spam Kata Kunci)
Dahulu, orang optimasi On Page dengan cara mengulang-ulang satu kata kunci yang sama secara brutal di dalam artikel. Sekarang, Google akan langsung menghukum website yang melakukan itu karena dianggap keyword stuffing (spam).
Google Keyword Planner menyediakan banyak sekali sinonim, istilah teknis alternatif, dan variasi kata terkait. Dengan menyebarkan variasi kata kunci dari hasil riset tadi ke sepanjang artikel, optimasi SEO On Page akan terlihat sangat natural, kaya akan kosa kata, dan dinilai berkualitas tinggi oleh Google.
4. Selaraskan Isi Artikel dengan User Intent (Niat Pembaca)
SEO On Page yang sukses bukan cuma soal memasukkan kata kunci ke sistem coding website, tapi seberapa akurat konten menjawab kebutuhan pembaca.
Data volume dan jenis kata kunci yang disajikan di platform ini memberikan petunjuk tentang apa yang sebenarnya sedang dicari audiens. Kamu bisa merancang isi halaman website atau postingan artikel agar benar-benar menjawab masalah mereka, sehingga pembaca betah berlama-lama di website (menurunkan bounce rate yang bagus untuk skor SEO website).
FAQs (Frequently Asked Questions) seputar Google Keyword Planner
1. Apakah akun Google Keyword Planner bisa kedaluwarsa atau hangus jika tidak pernah pasang iklan?
Jawab: Tidak. Akun kamu akan tetap aktif dan fitur Keyword Planner tetap bisa digunakan secara gratis selamanya, meskipun kamu tidak pernah meluncurkan atau membayar iklan satu kali pun di Google Ads.
2. Kenapa data volume pencarian di Google Keyword Planner berbeda dengan tool lain seperti Semrush atau Ahrefs?
Jawab: Google Keyword Planner adalah sumber data tangan pertama (first-party data) langsung dari server pencarian Google. Sementara tool pihak ketiga seperti Semrush atau Ahrefs menggunakan algoritma estimasi mereka sendiri yang digabungkan dengan data klik (clickstream data). Data dari Google Keyword Planner umumnya dianggap paling valid untuk ekosistem Google.
3. Berapa lama sekali Google memperbarui data volume pencarian di Keyword Planner?
Jawab: Google memperbarui data di dalam Keyword Planner sebulan sekali. Biasanya, data pencarian untuk bulan sebelumnya akan masuk dan diperbarui secara berkala pada minggu pertama atau kedua di bulan berikutnya.
4. Bisakah saya menggunakan Google Keyword Planner untuk riset kata kunci YouTube atau TikTok?
Jawab: Secara resmi tidak bisa. Alat ini khusus menyajikan data pencarian yang terjadi di mesin pencari Google (Google Search). Namun, karena tren pencarian di Google sering kali mirip dengan apa yang dicari orang di YouTube, kamu tetap bisa menjadikannya sebagai referensi awal.
5. Apa maksud dari kolom “Top of page bid” (low & high range) yang muncul di tabel data?
Jawab: Kolom tersebut menunjukkan estimasi biaya terendah (low range) dan tertinggi (high range) yang bersedia dibayar oleh para pengiklan agar iklan mereka muncul di posisi paling atas hasil pencarian Google. Bagi praktisi SEO, semakin tinggi angka ini, artinya kata kunci tersebut memiliki nilai komersial yang sangat berharga (banyak menghasilkan uang/penjualan).
6. Apakah performa akun gratisan dibatasi dalam hal jumlah pencarian kata kunci per hari?
Jawab: Tidak ada batasan harian yang ketat. Kamu bisa melakukan riset kata kunci berkali-kali dalam sehari secara gratis. Namun, jika sistem mendeteksi aktivitas pencarian yang terlalu cepat atau tidak wajar dalam waktu singkat, Google mungkin akan memunculkan verifikasi CAPTCHA untuk memastikan kamu bukan robot (bot).
7. Mengapa terkadang muncul notifikasi “No data available” saat saya memasukkan suatu kata kunci?
Jawab: Hal itu terjadi karena kata kunci yang kamu masukkan terlalu spesifik, terlalu panjang, atau merupakan topik yang sangat baru sehingga volume pencariannya di Google masih terlalu rendah (hampir nol) dalam beberapa bulan terakhir.
8. Apakah kata kunci yang memiliki volume pencarian “0-10” di Keyword Planner sama sekali tidak layak ditulis?
Jawab: Belum tentu. Jika kamu mengincar teknik SEO Lokal (misalnya: “Jasa service AC terdekat di [Nama Desa Kecil]”), volume pencariannya pasti kecil. Namun, orang yang mengetikkan kata kunci super spesifik tersebut biasanya memiliki tingkat keinginan membeli yang sangat tinggi, sehingga sangat layak untuk ditulis.
9. Bagaimana cara melihat tren musiman suatu kata kunci dari tahun-tahun sebelumnya di alat ini?
Jawab: Di pojok kanan atas halaman hasil riset, kamu bisa mengubah filter rentang waktu (Date Range). Secara default, Google menampilkan data 12 bulan terakhir. Kamu bisa mengubahnya menjadi 24 bulan terakhir atau memilih rentang waktu kustom (Custom) untuk melihat perbandingan tren dari tahun ke tahun.
10. Apakah kita bisa meriset kata kunci untuk target audiens di luar negeri (global)?
Jawab: Bisa banget. Di bagian filter lokasi (ikon pensil di bawah kolom input), kamu tinggal menghapus pilihan “Indonesia” dan menggantinya dengan negara tujuanmu (misalnya: “United States” atau “Malaysia”), lalu ubah setelan bahasanya yang sesuai. Google akan langsung menampilkan data pencarian spesifik dari negara tersebut.




